Yang Harus Dipahami Sebelum Menikah – Refleksi Taqy Salma

Kemarin saya nulis status; tanggapan terhadap video ‘curhat’ istrinya Taqy Malik di KVLOGnya awkarin. Anda bisa lihat tulisan itu di link ini.

Tidak bermaksud menari-nari di atas polemik rumah tangga orang lain, tetapi ada hal-hal yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Terutama untuk anda yang sudah ada rencana berserius dengan siapapun saja yang beda kelamin.

Insight ini saya dapatkan dari guru saat kemarin ngobrol–minta wejangan- terkait anu-anuan. Sebab saya, sebagai laki-laki, sedang merasa ditertawakan oleh keadaan dan ketakutan berlebih karena ketidakcerdasan-minder dan faktor-faktor lain yang rahasia. Halah.

Jadi begini …

Melihat gonjang-ganjing rumah tangga Taqy Malik dan Salma yang baru seumur jagung, pasti menimbulkan sesak tanya: kenapa bisa? baru tiga bulan kok … nganu?

Beberapa hal sudah saya sampaikan di status di atas. Tapi di sana saya bicara based on book, atau secara teori; pengetahuan-pengetahuan dari pengamatan pribadi yang tidak selalu tepat. Yaaa … saya kan belum pernah ngelamar orang, apalagi nikah. heuheu.

Di sini, In syaa Allah akan saya sampaikan berdasarkan pengalaman guru; based on experience. Blio juga seorang pembaca pola. Bahkan maqomnya sudah tinggi sekali. Makanya saya tidak tanggung-tanggung menumpahkan semuanya sampai tunas jawaban-jawaban yang aplikatif.

Sebakda Menikah, Dunia Serasa Milik Bersama?

Di berbagai tulisan tentang ‘kompor nikah’, lazim orang-orang mengemukakan penyesalan atas pernikahan mereka. Menyesal … kenapa gak dari dulu-dulu?

Mereka bercerita tentang indahnya bergandeng tangan saling pandang, bercanda bersama, menyesap kopi di tepian gelas yang sama, dan segenap romantika lainnya.

Dulu sempat saya berpikir begitu. Wajar. Semua orang mengalami. Saya pun baru bisa berhenti dari macam-macam degup-degup picisan itu tahun 2014 awal. Kalaupun anda masih menemukan tulisan-tulisan ndayu-ndayu saya setelah itu, percayalah itu karena tuntutan.

Kalau sebakda menikah dunia serasa milik berdua, kenapa tidak sedikit yang memilih berpisah?

Guru saya berkata, “Ya benar. Dunia milik berdua itu benar adanya. Tapi maksimal hanya akan bertahan tiga bulan saja. Sisanya, tidak ada lagi dunia untukmu. Setidaknya pada tahun pertama. Haha.”

Saya heran dong. Kok tidak ada dunia untuk saya saja?

Ternyata begini, perempuan adalah makhluk yang tidak akan sanggup menerima perubahan sekaligus dalam hidupnya. Masa transisi dari ‘sendiri’ menjadi ‘bersama’, banyak yang mengguncang kehidupan mereka (laki-laki juga sih). Maka tidak ada lagi dunia untukmu berarti, para laki-laki harus bisa mengalah dan sabar. Ya, selama–setidak-tidaknya- satu tahun.

Kenapa laki-laki yang mengalah? Karena mereka berlogika.

Walakin, anomali akan tetap ada. Namun based on experience, satu tahun pertama justru adalah ujian terberat dari kehidupan rumah tangga. Ya … wajar sih, kan harus kalbrasi; menyesuaikan satu sama lain.

Saling Memahami, Jangan Hanya Mencintai

Ini yang penting. Di satu tahun pertama kedua pihak harus besar rasa pengertiannya. Maka sebelum menikah, pengetahuan-pengetahuan seperti ini penting untuk dipahami.

Saya ulangi: satu tahun pertama adalah ujian terberat; masa kalibrasi.

Jadi, anda laki-laki, bila ternyata menemukan perempuanmu tidak sesuai ekspektasi awal dan tidak handal mentaatimu: bersamai, temani, cintai; sabar.

Tidak ada perempuan yang sebakda menikah langsung bisa jadi istri. Kalau mau yang sudah berpengalaman, nikahi saja janda.

Dan, anda perempuan, bila ternyata menemukan laki-lakimu tidak sesuai ekspektasi awal dan tidak handal memimpinmu: maklumi, maafkan, dan tetap akui.

Tidak ada laki-laki yang sebakda menikah langsung bisa jadi suami. Kalau mau yang sudah berpengalaman, terima saja lamaran duda.

Jangan Terjebak Spesifikasi

Sebakda menjadi pecinta yang waras, dari 2014 awal itu … saya lebih sering memikirkan tentang konflik rumah tangga yang mungkin terjadi daripada kesenangan-kesenangan yang otomatis akan dirasakan.

Saya list tuh apa-apa saja. Dari mulai perbedaan cara lidah mengecap; saya tidak suka pedas dia suka, misalnya, sampai ke perbedaan cara pandang dalam politik dan agama.

Saya orang yang ribet memang. Ya itulah kenapa kemarin saya khawatir. Lebih tepatnya terlalu khawatir. Apalagi kalau berbeda pandangan dalam pemikiran, sudah saja memancing sinaps-sinaps di dalam otak untuk bertembakan lebih cepat. Kalau ada suaranya mungkin mirip tembakan-tembakan di film Star Wars.

Apa yang saya pikirkan adalah hal-hal umum yang kemungkinan besar terjadi di banyak rumah tangga, bukan hal-hal yang sifatnya khusus berkaitan dengan perbedaan ‘aku’ dan ‘dia’. Bukan. (seenggaknya sampai ada calon. pret ~)

Tapi jujur, dari semenjak waras itu saya lebih berpikir ‘mau ngapain?’ daripada berpikir ‘sama siapa?’.

Saya pernah benar-benar pernah berpikir kalau saya nikah sama orang psikologi, mau ngapain?; kalau sama orang keguruan, mau ngapain?; kalau sama orang kesehatan, mau ngapain?; kalau sama orang anu, mau ngapain?

Masalah itu sudah khatam. Saya ingin siap sejak dalam pikiran.

Untuk merefresh ingatan, sila baca 8 persiapan sebelum menikah yang saya tulis tahun-tahun lalu di sini.

Tinggal, bagaimana bila ada perbedaan-perbedaan yang mencolok antara saya dan siapapun saja calonnya, utamanya dalam ‘pemikiran’?

Saya bawa pertanyaan itu ke guru. Lalu dia jawab, “Kalau kamu berharap dia sesuai denganmu saat sebelum menikah, mesti begini-begitu, sudah nikahi saja HP yang gak bisa diupgrade. Sudah jangan terlalu dikhawatirkan, jalani saja.”

Oh, jadi begini:

Bila anda berpikir pasanganmu harus seperti A, B, C, D sejak awal, ya sudah nikahi saja HP. Spesifikasinya sudah tepat sesuai. Tapi pasanganmu adalah manusia; bisa di-upgrade kalau ada yang kurang, juga downgrade kalau ada yang salah dan tak sesuai.

“Lagian,” lanjutnya, “sepintar-pintarnya perempuan, logikanya rapuh. Akan mudah digiring sama laki-laki. Apalagi kalau sudah cinta.”

(maaf, gak maksud seksis ya. Memang fitrahnya seperti itu.)

Wkwk. Saya ketawa. Singkat cerita, setelah ngobrol itu saya buka instagram. Ada satu teman saya yang dulunya aktif di jamaah A dinikahi sama laki-laki yang berasal dari jamaah B. Tebak jadi bagaimana dia: jadi tersibghah kelompok B dan menjelek-jelekkan ‘ulama dari kekompok A.

Lalu saya nggerutu: As … taghfirullah.

Nah, sebetulnya ada lagi. Ini khusus buat laki-laki. Kalau ada yang mau, bisa japri saya. Tapi cari kontaknya sendiri ya. Ha ha ha.

 

Leave a Comment